E Safe Camp Vol. 6 Hadirkan Edukasi tentang Peran Pendengar Bagi Korban Kekerasan
Pada Rabu, tanggal 6 Agustus 2025, Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melalui Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) kembali menyelenggarakan program edukatif bertajuk E-SAFE CAMP (Speak. Act. Fight. Empower). Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen kampus dalam menciptakan lingkungan yang aman, suportif, dan bebas dari kekerasan di lingkungan perguruan tinggi.
Memasuki episode keenam, tema yang diangkat adalah “Telinga yang Mendengar, Hati yang Menguatkan: Menjadi Ruang Aman untuk Mereka yang Speak Up.” Tema ini menjadi sangat relevan di tengah meningkatnya keberanian mahasiswa dan sivitas akademika untuk mengungkapkan pengalaman sebagai penyintas kekerasan, namun masih banyak yang belum menemukan ruang yang aman dan pendengar yang benar-benar hadir secara utuh untuk mendengarkan dan menguatkan.
Kegiatan ini diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting dan dimulai pada pukul 20.00 WIB hingga selesai. Antusiasme peserta sangat tinggi, dibuktikan dengan kehadiran puluhan peserta dari berbagai latar belakang mahasiswa di UNESA yang aktif mengikuti hingga akhir sesi. Acara dipandu oleh dua narasumber utama, yaitu Mahla Zayani dan Jesica Teresya, keduanya merupakan anggota Satgas PPKPT UNESA dari unsur mahasiswa
Dalam pemaparannya, Mahla Zayani menyampaikan pentingnya memahami peran sebagai pendengar yang tidak sekadar hadir secara fisik, namun juga secara emosional dan psikologis. Ia menekankan bahwa tidak semua orang yang speak up membutuhkan solusi instan lebih dari itu, mereka membutuhkan ruang aman yang tidak menghakimi, yang mampu merespons dengan empati dan kepekaan. Hal ini dipertegas oleh Jesica Teresya yang mengajak seluruh peserta untuk merenungi kembali bagaimana respon kita selama ini terhadap cerita orang lain, khususnya mereka yang tengah berjuang memulihkan diri dari trauma.
Kedua narasumber mengajak peserta untuk tidak menyepelekan peran sebagai pendengar. Dalam banyak kasus, seseorang bisa bertahan hidup dan pulih karena satu orang yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi. Melalui pendekatan yang humanis dan reflektif, peserta diajak mengidentifikasi hal-hal kecil yang sering kali luput namun berdampak besar terhadap kenyamanan penyintas, seperti gestur tubuh saat mendengarkan, pilihan kata saat merespons, hingga cara menjaga rahasia yang dipercayakan kepada kita.
Interaksi selama kegiatan berlangsung sangat hidup. Peserta tak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi juga aktif menyampaikan pendapat, pengalaman, dan pertanyaan kepada narasumber. Ada yang berbagi tentang pengalaman temannya yang menjadi korban kekerasan verbal di lingkungan organisasi, ada pula yang bertanya tentang bagaimana cara menghindari kalimat-kalimat yang terkesan menyalahkan korban meski tak sengaja.
Dengan terlaksananya E-SAFE CAMP episode keenam ini, diharapkan akan semakin banyak mahasiswa yang memiliki keberanian untuk speak up, dan semakin banyak pula pihak yang teredukasi tentang bagaimana menjadi bagian dari ruang aman yang sejati. Bukan dengan banyak bicara, tetapi dengan menjadi telinga yang mendengar dan hati yang menguatkan.
Share It On: