Webinar Ketahanan Mental: Bekal Mahasiswa Baru FH UNESA Hadapi Tantangan Kampus
Memasuki dunia perkuliahan kerap menjadi masa penuh transisi yang tidak mudah bagi mahasiswa baru. Perubahan sistem belajar, tuntutan akademik, hingga dinamika pergaulan bisa menimbulkan tekanan tersendiri. Menyadari hal itu, Direktorat Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis (PPIS) dengan Fakultas Hukum Universitas Negeri Surabaya (FH UNESA) menggelar Webinar Ketahanan Mental Mahasiswa Baru pada Jumat, 19 September 2025. Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom ini menghadirkan lebih dari 400 mahasiswa baru angkatan 2025 dan menjadi rangkaian penting dalam program orientasi mahasiswa.
Mengangkat tema seputar kesehatan mental dan pencegahan kekerasan berbasis gender di lingkungan kampus, webinar ini dihadirkan sebagai upaya nyata untuk mempersiapkan mental, psikologis, sekaligus kesadaran kritis mahasiswa sejak awal perjalanan akademik mereka.
Materi pertama dibawakan oleh Intan Lovisonnya, S.H., M.H., Koordinator Bimbingan dan Konseling FH UNESA. Ia menyoroti tantangan adaptasi yang sering dialami mahasiswa baru, mulai dari culture shock, perbedaan sistem perkuliahan dengan sekolah, hingga manajemen diri dalam menghadapi tekanan akademik. Intan menekankan bahwa keterbukaan terhadap pengalaman baru menjadi kunci penting, namun tetap harus dibarengi dengan prinsip yang kokoh agar mahasiswa tidak 89 mudah terbawa arus negatif.
Selain itu, ia juga mengenalkan beragam fasilitas digital UNESA yang bisa membantu mahasiswa menjalani proses belajar, seperti SSO, MyUnesa, dan layanan e-konseling. “Semua fasilitas ini bisa dimanfaatkan untuk mendukung keberhasilan akademik sekaligus menjaga kesehatan mental mahasiswa,” jelasnya.
Sesi kedua menghadirkan Rojil Nugroho, B.A., S.Hum., M.A., Kepala Seksi Ideologi, Moderasi Beragama, dan Bela Negara. Ia mengangkat tema “Gen Z dan Kekerasan Berbasis Gender di Indonesia” yang membahas fenomena budaya kekerasan yang masih terjadi di ruangruang pendidikan, termasuk kampus. Dalam paparannya, Rojil menekankan pentingnya kesadaran mahasiswa terhadap relasi kuasa yang kerap melatarbelakangi terjadinya kekerasan.
an bersikap tegas terhadap perilaku yang tidak pantas, sekaligus mendorong mereka menjadi bagian dari solusi. “Kekerasan berbasis gender bukan hanya merugikan korban, tetapi juga merusak iklim akademik yang seharusnya sehat dan inklusif. Mahasiswa sebagai generasi muda harus menjadi garda depan dalam mencegah hal tersebut,” tegasnya.
Melalui webinar ini, FH UNESA tidak hanya membekali mahasiswa baru dengan wawasan akademik, tetapi juga dengan ketahanan mental serta kesadaran sosial. Harapannya, mahasiswa tidak hanya siap menghadapi dinamika kehidupan kampus, tetapi juga mampu berkontribusi membangun lingkungan yang aman, sehat, dan bebas dari kekerasan.
Share It On: