Rancang (Rabu Berbincang): Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Predator Seksual?

Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali mengadakan kegiatan Rancang pada Rabu, 1 Maret 2023. Tema yang diangkat yaitu "Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Predator Seksual?" dengan narasumber Ibu Nanda Audia Vrisaba, M.Psi., Psikolog.
Fadila Dian Wardani sebagai moderator memulai diskusi dengan menyampaikan pertanyaan pemantik tentang gambaran umum predator seksual. Ibu Nanda Audia Vrisaba menjelaskan bahwa predator seksual merupakan seseorang yang melakukan konteks seksual secara berulang, agresif, dan kasar layaknya hewan pemangsa. Dimana predator seksual memiliki kekuatan yang lebih unggul dibanding korban.
“Baik laki-laki maupun perempuan berpeluang untuk menjadi predator seksual. Seseorang tidak mungkin menjadi predator seksual hanya dikarenakan oleh faktor tunggal. Jadi, ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi seseorang menjadi predator seksual. Jika ditinjau dari segi psikologis, orang yang menjadi predator seksual seringkali tidak memiliki cukup kepercayaan diri. Sehingga saat melakukan perilaku menyimpang, dia memandang dirinya memiliki kekuatan yang lebih unggul dari orang lain,” papar Ibu Nanda Audia Vrisaba.
Selain itu, predator seksual biasanya memiliki norma yang longgar, regulasi kontrol diri yang lemah, serta distorsi kognitif atau penyimpangan berpikir. Kesalahan dalam berpikir tentu akan memengaruhi perilaku predator seksual. Ketika predator seksual melakukan perbuatan menyimpang, maka rasa bersalah, berdosa, dan malu pun bisa hilang dengan membuat rasionalisasi atau pembenaran atas perbuatan tersebut.
Menurut Ibu Nanda Audia Vrisaba, bentuk penanganan terhadap predator seksual akan cukup kompleks karena berkaitan dengan perilaku menyimpang yang telah dilakukan selama bertahun-tahun. Meski begitu, perilaku predator seksual dapat ditangani dengan pemberian konseling dalam waktu yang panjang. “Kita perlu membantu predator seksual tersebut untuk berdamai dan memaafkan masa lalunya. Setelah itu, kita juga bisa memperbaiki distorsi kognitif dan regulasi dirinya. Bantu dia menemukan kelebihan yang dimiliki. Sehingga dia memiliki konsep diri yang positif,” tambahnya.
Kegiatan Rancang kali ini berjalan dengan lancar. Beberapa audiens tampak menyimak materi yang disampaikan dengan antusias. Dengan demikian, diskusi ini diharap dapat memberikan edukasi kepada audiens untuk lebih peka terhadap lingkungan agar terhindar dari predator seksual.
Share It On: